Lost in China. Haikou, Hainan Island

Akhirnya sampai juga di Haikou, ibukota provinsi Hainan. Pulau kecil di sisi selatan yang dijuluki dengan Hawaii van China. Dan sudah pasti bisa ditebak seperti apa panasnya. Hahaa panas banget!

20140620_075929

Nah sudah sampai di Hainan apa yang akan aku lakukan? Jawabannya adalah belum tahu, yang mengakibatkan aku harus berdiam diri di bandara selama kurang lebih 3 jam untuk mendapatkan wi fi dan mencari informasi mengenai kota Haikou serta tempat-tempat menarik di sini. Oh ya aku hanya memiliki waktu 5 jam untuk berkeliling di Haikou sebelum akhirnya aku harus kembali lagi ke bandara untuk bertemu dengan seorang teman dan keluarganya yang akan mengajakku ke belahan lain Pulau Hainan. Jadi apa yang akan aku lakukan dengan waktu 5 jam? Ya berpetualang dong! Apalagi?!

20140620_075537Pesawat CSA dari Shenzhe ke Haikou

20140620_080429Bandara Internasional Haikou Meilan

Hal yang pertama dilakukan adalah mencari akses gratis wifi bandara. Tapi berakhir dengan tragis karena sampai kurang lebih sejam tidak bisa log in. Akhirnya dengan berat hati kaki ini melangkah menuju ke sebuah konter makanan cepat saji dan mengeluarkan uang 20 CNY untuk segelas besar minuman bersoda dan sepotong paha ayam hanya demi mendapatkan wifi gratis. Selama dua jam tanpa putus asa mencari informasi yang dibutuhkan. Sampai akhirnya diputuskan aku akan mengunjungi dua tempat wisata yang ada di Haikou. Setelah selesai mencari informasi dan merasa cukup, aku langsung pergi ke pusat informasi bandara untuk meminta bantuan kepada petugas untuk menerjemahkan tulisan dalam bahasa inggrisku ke tulisan China yang aku tulis disebuah kertas. Hahaha mengingat aku hanya bisa mengucapkan xie xie saja yang berarti terimakasih dan ni hao. Ada kurang lebih 5 tulisan yang diterjemahkan. Intinya sih itu nama-nama tempat penting dimana aku akan berkunjung dan menuntunku pulang kembali ke bandara dengan selamat sentosa tanpa ada kurang apapun. Dan satu kata andalan untuk ayam! Hahaha
Setelah selesai urusan dengan petugas informasi bandara dan mengucapkan xie xie, langsung tanpa ba bi bu aku mencari bus menuju ke kota. Berpedoman informasi yang ada, aku dapat menggunakan bus no 41 atau no 21. Beberapa lama mencari bus stop akhirnya aku menemukan bus stop nya dengan drama lari-lari mengejar bus nomor 41yang sudah berjalan, untung sang supir mau sedikit menunggu sampai akhirnya aku duduk manis di dalam bus. Setelah itu? Aku langsung menunjukkan tulisan yang ada dikertas tadi. Wugong Temple atau Wugong Ci itulah tujuan pertamaku tapi malah si supir menunjukkan ke tulisan yang lain. Nah loh mampus, tanpa dosa apapun aku pun dengan pasrah duduk dan mengikuti omongan sang supir dan terus berdoa semoga tuhan masih bersamaku dan aku tidak diculik. Hahaha Jadi selama perjalanan itu aku hanya pasrah sama sang supir, dia mau membawa aku kemana aku ikut saja. Tapi yang jelas supirnya baik hati, ketika aku membayar bus dengan uang 20 CNY karena tidak ada uang kecil dan yang aku tahu harga maksimal naik bus ke kota adalah 6 CNY, ternyata tanpa aku duga, sang supir memberikan kembalian yang sesuai. Kirain mau diembat karena aku orang asing. Haha Naik bus 41 ke kota cuma bayar 5 CNY saja ternyata.
Selama perjalanan menuju kota terlihat pemandangan khas ibu kota, banyak gedung-gedung tinggi, pasar, lalu lalang kendaraan bermotor dan yang paling mengganggu adalah polisi suara disini sangat tinggi sekali. Setiap kendaraan bisa membunyikan bel 5 kali dalam waktu kurang dari 1 menit. Setiap kendaraan loh ya bukan satu dua saja. Mulai dari mobil, bus, maupun kendaraan roda dua. Dan harus tahan dengan semua itu selama satu jam. Pemandangan paling unik di sini adalah ternyata di sini-entah dibenarkan atau tidak-zebra cross diginakan tidak hanya oleh pejalan kaki saja tapi juga kendaraan bermotor. Kereenn!! Hahaha
Ketika masih asik mengambil gambar dari dalam bus tiba-tiba sang supir memanggil dan berbicara dalam bahasa China. Welcome to the jungle (again). Dan aku buru-buru mengeluarkan kertasku lagi sambil menunjukkan tulisan yang di tunjuk oleh supir diawal tadi. Dan dengan santainya sang supir mengeluarkan pena dan menulis ntah tulisan apa yang dia tulis dan menyuruhku untuk turun. Dan dengan pasrah lagi aku menurut saja dan turun disebuah bus stop yang terbuat dari tenda sederhana dan banyak penjual-penjual menjajakan makanannya. Panas terik mulai menyengat membuatku tambah bingung tapi tetap stay cool. Ku lihat sekeliling disana hanya ada beberapa orang saja yang juga masih menunggu bus. Aku keluarkan kertas yang tadi dan ku pandangi dengan nanar tulisan sang supir berharap bisa berubah menjadi tulisan yang bisa aku baca.

20140620_114345 20140620_115531 20140620_122140Suasana Kota Haikou

Akhirnya dengan keberanian maksimal-sebenarnya sih lebih cenderung ke kesiapan untuk menerima segala jawaban yang tidak diharapkan-aku bertanya ke seorang wanita didekatku. “Speak english?” Dan sang wanita tersenyum lebar. Aku tunjukkan tulisan dari sang supir dan wanita tersebut dengan susah payah menjelasakan tapi segimana berusahanya dia menjelaskan aku sama sekali tidak paham. Dan aku bertanya lagi. “Bus?” dan tampaknya wanita tersebut paham dengan bahasa inggris. Karena dia mengannguk. Kemudian aku bertanya lagi. “Number?” Sambil aku tulis di kertas yang aku bawa. Dan dia berkata dengan aksen mandarin yang kental “three”. Ah oke dia bisa sedikit bahasa inggris. Aku perjelas lagi dengan menunjukkan angka 3 dengan jariku. “Three?” Tapi dia menggeleng. Dan akhirnya menuliskan sebuah angka di kertas. “33” dan dengan susah payah di berkata “thirty three”. Ahh akhirnya. Setelah pertempuran panjang ini. Di akhir percakapan tidak lupa aku bilang xie xie.

Ketika sedang menunggu bus tiba-tiba wanita itu menyentuh pundak ku dan menunjukkan kalau bus nomor 33 sudah datang dan ternyata wanita itu satu bus dengan ku. Baik hati banget kan. Saat masuk ke bus tidak lupa aku bertanya ke supir dengan tulisan yang ada dikertas untuk memastikan aku tidak salah bus. Setelah beberapa menit bus berjalan tiba-tiba sang supir berbicara dengan menujuk-nunjuk ke arah kirinya dengan bahasa yang sekali lagi aku tidak paham dan menyuruhku turun. Dan aku memastikan lagi bertanya ke wanita yang twlah menolongku tadi, “here?” Yang dibalas wanita tadi sengan mengangguk dan menunjuk-nunjuk ke arah kiri seperti yang dilakukan sang supir. Ya sudah, berarti aku harus turun di bus stop di depan. Dan sekali lagi aku mengucapkan xie xie ke wanita yang sudah menolongku.

Setelah turun dari bus aku mencari arah petunjuk sebuah temple, dan akhirnya aku melihat disisi seberang jalan ada sebuah temple. Aku mulai berjalan mencari tempat penyebrangan. Dan untuk memastikannya kembali aku kemudian bertanya ke seorang penjual buah yang aku temui dengan sekali lagi menunjukkan tulisan yang ada didalam kertas. Dan dijawab dengan sebuah arahan telunjuk dia kesebuah bangunan diseberang jalan. Akupun mengikuti arah petunjuk dia. Dan sampai.
Akhirnya dengan perjuangan yang sangat berat dan penuh liku liku, bertanya sana sini dengan  bahasa dan tulisan yang berbeda, aku sampai juga di Tomb of Hai Rui. Apa itu tomb of Hai Rui? Tunggu tulisan selanjutnya ya. Hehe

Banyak sekali nilai positif yang aku dapat dari perjalananku yang cuma 1,5jam dari bandara menuju ke tempat ini. Pikiran positif tapi waspada itu perlu dan percayalah kalau banyak orang disekitar kita yang akan membantu kita ketika dalam kesulitan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s