Pecah Telor ke Singapore (Part 3 of 5)

Pesawat Lion Air ku landing tepat pukul 6.00 pm waktu Singapura. Inget ya, jamnya udah pake waktu Singapura. Dan waktu Singapura itu satu jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat (WIB) atau sama dengan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Setelah keluar dari pesawat dan memasuki Changi International Airport, wihhh sungguh ini bandara kayak lapangan bola, gede banget. Lampu-lampu indah bertebaran disetiap susut ruangan menambah kesan megah dan mewahnya bandara, lantai yang dilapisi dengan karpet tebal yang kayaknya hangat buat tidur. Gak salah kalau banyak para traveller sering menggunakan bandara ini buat tidur saat transit atau kemalaman sampai di Singapura dan karena hal ini katanya bahwa Changi Airport adalah salah satu bandara paling bersahabat dengan para traveller. Selain itu juga katanya sih banyak beberapa penghargaan buat ini bandara. Sangking luasnya kita harus jalan jauh dari gate kita masuk bandara sampe menuju ke bagian imigrasi Singapuranya. Tapi jangan sampe takut kehausan kalo kita harus jalan jauh di dalam bandara, di bandara ini telah disediakan air minum di sudut-sudut bandara dan itu gratis. Nah fungsi dari botol yang kita bawa dari Indonesia tadi adalah biar kita bisa mengisi air di bandara untuk persediaan selama di penginapan atau waktu kita jalan-jalan.

Setelah sekian jauhnya kita jalan menuju ke bagian imigrasi Singapura, akhirnya kita sampe juga di itu tempat. Setelah turun dari eskalator kita di sambut dengan ruangan yang gak kalah luas, tinggi dan megah yang di depannya terdapat deretan meja/konter tempat petugas-petugas imigrasi bekerja mengecek orang-orang yang masuk ke Singapura. Oh iya, masih inget kan mengenai kartu atau form disembarkasi/embarkasi? Siapkan kartu itu sebelum menghadap petugas imigrasi, karena form itu akan di cek dan sebagian akan di ambil petugas. Nah kalo tiba-tiba itu form hilang, jangan takut dan bingung karena di ruangan yang luas ini telah banyak disediakan form tersebut yang bisa kita ambil dimeja-meja khusus di bagian kanan. Keren kan? Tapi kalau saranku, saat masih di pesawat saat pramugrari menanyakan dan menawarkan form disembarkasi/embarkasi lagi kepada kita, kita bisa memintanya lagi. Buat jaga-jaga atau buat kenang-kenangan kita. Hehee.

Nah sesampainya di depan konter petugas imigrasi rasanya dag dig dug, karena menurut yang aku baca di internet dan beberapa buku-buku perjalanan di sini ini lah tahap akhir kita bisa atau tidaknya masuk Singapura. Katanya sih menurut yang aku baca kita bakal dipersulit sama petugasnya. Mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang menjebak dan lain sebagainya. Tapi dari beberapa yang bikin seneng adalah mereka memberikan saran dan tips ampuh buat melewati petugas imigrasi ini. Salah satunya adalah dengan tidak gugup saat sang petugas bertanya kepada kita.

Lanjut lagi deh ke ceritanya. Sekali lagi ya aku ingetin. Singapura itu negara yang disiplin dan menghargai waktu. Jadi tolong hapus segala kebiasaan orang Indonesia selama di Singapura. Terapkan tradisi dan budaya serta kebiasaan masyarakat di Singapura sejak kita pertama kali mendarat di sini. Coba deh ikutin kebiasaanya, bakal seru! Salah satunya adalah budaya mengantri. Seperti di bandara Soekarno Hatta, saat kita mengantri di imigrasi Singapura juga harus berdiri di belakang garis kuning yang ada. Setelah tiba giliran kita, kita langsung menuju ke depan petugas, ini bertujuan untuk memudahkan petugas mmengecek serta mencocokkan foto passport kita dengan tampilan asli wajah kita. Setelah beberapa saat, ini dia tiba saatnya giliranku untuk menghadap petugas imigrasi Singapura. Dengan rasa dag-dig-dug serr aku melangkah menuju petugas dengan membawa form disembarkasi/embarkasi serta passport di tangan. Aku memilih petugas wanita yang sepertinya keturunan India. Dan setelah meberikan passport dan form disembarkasi/embarkasi, kemudian aku ditanyain. Berharapnya sih diberi pertanyaan menggunakan bahasa Inggris. Maklum lagi pengen belajar dan memperlancar bahasa Inggrisku yang masih kacau. Tapi apa daya, setelah mendengar bahasa melayu yang keluar dari mulutnya. Kecewa. “Berapa hari di Singapura? 9 hari?” Aku jawab “oh, 4 hari.” Mungkin dia mengira angka yang aku tulis di form itu seperti angka 9. “Mau tinggal dimana?” Asal jawab aja, padahal belum tau mau menginap dimana. “Pillows and Toast Hostel Chinatown.” “Oke, tolong tuliskan disini” kata petugasnya lagi sambil menunjukkan bagian alamat tempat tinggal selama di Singapura di dalam form disembarkasi/embarkasi yang memang tidak aku isi. Karena bingung, untung dari jauh-jauh hari udah ngapalin itu nama hostel dari nemu di internet. Barangkali bakal ditanyain, setidaknya udah ada persiapan. Tapi emang hostel itu sih yang bakal kita cari duluan buat tempat nginep kita selama di Singapura. Setelah melihat passport dan mencocokkan foto dengan wajah ganteng asli aku. Petugas tanpa berkomentar cap sana cap sini dan merobek bagian form disembarkasi/embarkasi. Dan sebagian lagi diberikan ke aku lagi beserta passport yang sudah dicap. Dan itu tandanya?? Horeee!!! Akhirnya aku lolos masuk Singapura!! Hahaha. Tanpa kendala yang berarti.

Nah setelah keluar dari bagian imigrasi, kita memutuskan buat langsung cari hostel buat naruh barang dan bersih-bersih badan serta buat beristirahat. Kita putusin akan ke Chinatown terlebih dahulu. Kita akan menggunakan MRT yang menjadi moda transportasi favorit warga dan turis di Singapura. Dari imigrasi kita jalan mencari Skytrain yang akan mengantarkan kita ke Stasiun MRT di Terminnal 3, kebetulan aku di Terminal 2. Dan kereta ini gratis! Gak perlu bayar. Ikutin aja papan papan petunjuk arah Skytrain atau Train to City yang ada gambarnya kereta. Nah setelah sampe di T3 kita langsung cari staiun MRT nya. Nah ini tantangan barunya, gimana cara beli tiketnya, masuknya, dan lain sebagianya. Sesampainya di stasiun MRT kita langsung ke pusat informasi yang ada. Temanku langsung bertanya gimana cara beli tiket dan untuk sekali jalan. Dan sang petugas menunjukkan tempat beli tiketnya yang berada di belakang kita. Kita langsung jalan menghampiri itu tempat penjualan tiket dan apa yang kita temukan? Ternyata itu sebuat mesin tiket mirip mesin ATM. Mampus, ini gimana cara pakenya? Hahaha katrok banget dah ini kita di sana. Tapi seppertinya bukan kita doang kok yang kesusuahan buat mengetahui cara penggunaan mesin tiket ini. Untungnya di sana ada ibu-ibu yang sepertinya bertugas buat ngejelasin gimana cara pake itu mesin tiket bagi kita-kita yang emang baru pertama kali ke Singapura. Dan sepertinya juga sebagai money changer berjalan. Kenapa? Terus aja baca ceritanya ya.

IMG01629-20130219-1850


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s